SEBAB KORUPSI DI INDONESIA
Tentang sebab orang melakukan perbuatan korupsi di Indonesia menurut Prof. Dr. Jur. Andi Hamzah dalam bukunya Pemberantasan Korupsi melalui hukum pidana nasional dan internasional yaitu, beragai pendapat telah dilontarkan. Ditambah dengan pengalaman-pengalaman selama ini, maka kita dapat membuat asumsi atau hipotesis misalnya sebagai berikut :
1. Kurangnya Gaji atau Pendapatan Pegawai Negeri Dibandingkan dengan Kebutuhan yang Makin Hari Makin Meningkat.
Mengenai masalah kurangnya gaji atau pendapatan pegawai negeri di Indonesia telah dikupas oleh B. Soedarso yang menyatakan antara lain :
“Pada umumnya orang menghubungkan tumbuh suburnya dengan sebab yang paling gampang dihubungkan, misalnya kurang gaji pejabat-pejabat, buruknya ekonomi, mental pejabat yang kurang baik, administrasi dan management yang kacau yang menghasilkan adanya prosedur yang berliku-liku dan sebagainya.”
Patut diingat, bahwa kurangnya gaji pegawai negeri dan pemotongan-pemotongan gaji yang banyak dibanding dengan kebutuhan hidup, semakin gawat manakala diperhatikan kebutuhan yang semakin meningkat sebagai akibat kemajuan teknologi.
2. Latar Belakang Kebudayaan atau Kultur Indonesia yang Merupakan Sumber atau Sebab Meluasnya Korupsi.
Soedarso menunjuk beberapa penyebab dari korupsi selanjutnya menguraikan tentang latar belakang kultur ini. Antara lain :
“Dalam hubungan meluasnya korupsi di Indonesia maka apabila miliu itu ditinjau lebih lanjut, maka yang perlu diselidiki tentunya bukan kekhususan miliu orang satu per satu, melainkan yang secara umum meliputi, dirasakan dan mempengaruhi kita semua orang Indonesia. Mungkin kita bisa menemukan sebab-sebab masyarakat kita dapat menelorkan korupsi sebagai way of life dari banyak orang, mengapa korupsi itu secara diam-diam ditolereer, bukan oleh pengusaha, tetapi oleh masyrakat sendiri. Kalau masyarakat umum memiliki semangat anti korupsi seperti para mahasiswa pada waktu melakukan demonstrasi anti korupsi, maka korupsi sungguh-sungguh tidak akan dikenal” (B. Soedarso 1969 :14).
3. Manajemen yang Kurang Baik dan Kontrol yang Kurang Efektif dan Efesien
Manajemen yang kurang baik dan kontrol yang kurang efektif dan efesien sering dipandang pula sebagai penyebab korupsi, khusunya dalam arti bahwa hal yang demikian itu akan memberi peluang orang untuk korupsi. Sering dikatakan makin besar anggaran pembangunan semakin besar pula kemungkinan terjadinya kebocoran.
4. Penyebab Korupsi ialah Modernisasi
Huntington menulis sebagai berikut :
“Korupsi terdapat dalam masyarakat, tetapi korupsi lebih umum dalam masyarakat yang satu daripada yang lain, dan dalam masyarakat yang sedang tumbuh korupsi lebih umum dalam suatu periode yang satu dari yang lain. Bukti-bukti dari sana-sini menunjukan bahwa luas perkembangan korupsi berkaitan dengan modernisasi sosial dan ekonomi yang cepat” (Huntington, 1977, dalam Mochtar Lubis dan Scott: 121).
Mengapa modernisasi mengembangbiakkan korupsi dapat disingkat dari jawaban Huntington sebagai berikut :
a. Modernisasi membawa perubahan-perubahan pada nilai dasar atas masyarakat.
b. Modernisasi juga ikut mengembangkan korupsi karena modernisasi membuka sumber-sumber kekayaan dan kekuasaan baru. Hubungan sumber-sumber ini dengan kehidupan politik tidak diatur oleh norma-norma tradisional yang terpenting dalam masyarakat, sedangkan norma-norma baru dalam hal ini belum dapat diterima oleh golongan-golongan berpengaruh dalam masyarakat.
c. Modernisasi merangsang korupsi karena perubahan-perubahan yang diakibatkannya dalam bidang kegiatan sistem politik.
Namun menurut saya bukan hanya itu saja yang menyebabkan Korupsi di Indonesia jika di lihat perkembanganna saat ini Korupsi di indonesia juga di sebabkan oleh kurangnya pendidikan moral yang di ajarkan di sekolah-sekolah sehingga generasi penerus yang mungkin menjadi orang-orang di pemerintahan terbiasa utuk tidak jujur sejak mereka sekolah atau bahkan masih di rumah. Itu sebabnya saat ini di sekolah-sekolah pemerintah sedang gencar-gencarnya menggalakan pendidikan karakter. Ketidak jujuran geneasi muda akan terbawa hingga mereka tua apa jadinya jika mereka menjadi pejabat penting jika mereka di usia tua tentunya keohongannya akan terus menuupi kebohongan yang lain. Bisa di bilang moral bangsa ini dari anak-anak hingga orang tua sangat bobrok bagi mereka kebohongan dan ketidak jujuran itu biasa saja bisa di lihat di sekitar kita, korupsi bukan hanya terjadi di lapisan menengah atas atau para pejabat tapi juga lapisan masyarakat atau pejabat kecil seperti kades atau bahkan RT bukan hanya itu jika di sekolah-sekolah sekarang jika anak ada yang mencontek saat ujian guru banyak yang tidak memperdulikannya dengan alasan bahwa mereka ingin nilai murid mereka tinggi dan tak perlu susah-susah lagi remedial atau membiarkan dengan alasan paham karena pernah muda dan melakukan hal contek-mencontek. Bahkan ketidak jujuran pun mulai di dukung orangtua alsannya agar mereka lulus ujian dengan nilai tinggi dan membanggakan orang tua alhasil orang tua mencari ara untuk membelikan anaknya kunci jawaban ujian yang lebih parah lagi ada oknum-oknum tertentu di dalam sekolah alias guru yang dengan sengaja membocorkan kunci jawaban ujian agar murid-muridnya lulus ujian. Cara seperti inilah yang justru akan melahirkan geerasi-generasi korup mereka yang dikatakan pandai dan pintar dengan segala cara tanpa usaha dan hanya uang yang main tentu tidak akan menjadikan mereka menjadi wakil rakyat yang bersih dan jujur. Karena sifat itu akan terbawa hingga mereka tua dan terwaris ke anak-anaknya.
Jika dilihat di masa sekarang korupsi juga bukan sekedar keinginan dari sang pejabat itu sendir tapi juga karena keinginan isteri-istri yang berada di belakangnya. Banyak orang yang mengatakan seseorang akan hancur karena harta, tahta dan wanita. Ya wanita-wanita si belakang para pejabat saat ini banyak yang bergaya hidup ala socialita mengedepankan harga diri, kekayaan dengan menunjukkan ke depan para komunitasnya berbagai aksesori yang branded dan mahal menempel di tubuhnya dari harga jutaan hingga milyaran hal itu tentu membuat sang istri-istri semacam itu untuk menuntut suamiya memberikan kebutuhan hidup yang serba mewah dan mahal. Akibatnya sang suami aka melakukan segala cara termasuk korupsi untuk memenuhi tuntutan dan kehidupan pribadinya. Tentunya seseorang yang selalu bersyukur dan merasa cukup tidak akan banyak menuntut hal-hal yang mewah seperti itu dan hal ini sagat memerlukan pendidikan moral dan akhlak.
sumber buku: Hamzah, Andi. 1984. Korupsi di Indonesia masalah dan pemecahannya. Jakarta: Gramedia. Marpaung, Leden. 1992. Tindak pidana korupsi dan pemecahannya. Jakarta: Sinar Grafika.
Hamzah, Andi. 2007. Pemberantasan Korupsi Melalui Hukum Pidana Nasional dan Internasional. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.